05 December 2017

PMP dan PKn

Isi dari tulisan ini mungkin tidak sesuai dengan judul.



Dulu, jaman PMP, ada Bab khusus Toleransi. Judulnya "Saling Menghormati"

Di bab itu dijelaskan bagaimana cara menghormati perbedaan. Ada poin-poinnya. Kami dari SD terbiasa mendengar dan faham kata tepo seliro dan tenggangrasa.

Jadi semua akan tahu dan bisa menilai apakah suatu perbuatan melanggar toleransi atau tidak.

Dulu kami tidak mengaku-aku Kami Pancasila, tapi jelas kami menjalankan pancasila.

1. Kami jelas Tuhannya Esa, kami menjalankan apa yang diminta Tuhan kami tanpa perlu meminta pendapat anda.
2. Kami jelas berperikemanusiaan, kami dipaksa Tuhan kami untuk menyerahkan sebagian harta untuk fakir miskin, dipaksa untuk menyayangi anak yatim, dilarang menyakiti orang lain, baik dengan perkataan,apalagi dengan tindakan
3. Kami jelas bersatu. bahkan ketika negara ini kacau di tahun 1998, kami lebih memilih bertahan, menjaga kampung kami masing-masing sambil memberi kabar situasi terkini. jelas bukan kami yang ketika itu lari ke luar negeri, sembunyi di Singapura, atau memohon perlindungan ke AS.
4. entah bagaimana cara anda memahami sila ke 4. bagi saya dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan berarti dipimpin oleh seseorang yg dipercaya untuk jadi pemimpin, karena memiliki hikmah, ilmu tinggi, pengamalan tinggi, bijak,pandai, dan mengayomi. dipilih dalam majlis permusyawaratan/ perwakilan. bukan dipilih dalam TPS.
5. sebelum adil secara hukum,adilkan dulu kami secara sosial, karena kalau sosial kami adil, kami akan sejauh mungkin menghindari pelanggaran hukum.

Dulu ada kelompok (baca: Partai) yang sangat ingin membuang Pancasila dari jiwa anak kecil dan remaja. Masa?
iya, kami sempat tidak tahu ada pancasila karena satu-satunya pelajaran pancasila dihilangkan dari sekolah. sekarang ada lagi, tapi isinya lebih kepada tata negara dan hukum. Bukan lagi membahas bagaimana kami mengamalkan pancasila.